• September 27, 2022

Sulit Tidur selama Pandemi Covid-19, Anda Alami Coronasomnia

Pandemi COVID-19 dan ancamannya tak hanya mengganggu kesehatan fisik namun juga psikis. Banyak yang mengalami gangguan tidur selama pandemi COVID-19 yang disebut coronasomnia. Spesialis kedokteran jiwa dr. Andri, Sp.KJ mengatakan gangguan tidur di masa pandemi biasanya mulai dialami sejak orang terinfeksi COVID-19.

“Jadi pada saat dia terinfeksi corona itu, pada saat sakit sudah mengalami gangguan tidur, terutama biasanya pada orang-orang yang mungkin tidak menyangka kalau dia bisa kena Covid,” kata Andri.

Selain itu, Andri juga menjelaskan gangguan tidur juga dapat dialami meski dia tidak terkena Covid-19, biasanya karena tidak menerima kondisi pandemi ini.

“Kayak ketakutan yang luar biasa akibat pemberitaan terkait Covid. Mungkin banyak yang mengatakan, ‘Oh ini bisa mati’ bisa kenapa-napa.’ Itu salah satunya,” ujarnya.

Coronasomnia atau perpaduan kata corona dan insomnia juga bisa dialami orang-orang yang memang sudah memiliki riwayat gangguan kecemasan sebelumnya sehingga akan memperparah kondisi. Untuk menangani gangguan ini, Andri menjelaskan cara untuk menanganinya adalah dengan memberi bantuan obat tidur. Kedua, psikiater pun akan membantu pola tidur menjadi lebih baik.

Selain gangguan tidur, masalah lain yang banyak dialami masyarakat di tengah pandemi Covid-19 adalah gangguan kecemasan.

“Paling banyak gangguan kecemasan. Jadi, dari awal Maret 2020 sebenarnya pasien-pasien yang mengalami gangguan kecemasan itu dominan. Jadi, cuma khawatir ada gejala-gejala batuk pilek. Terus nanti ada sesak-sesak sedikit, kecapekan, dikiranya Covid,” paparnya.

“Tapi, kalau yang sekarang, enam bulan terakhir dari mulai Januari sebenarnya sampai sekitar Juni kemarin, itu yang paling banyak memang sudah kecemasan akibat kondisi Covid itu sendiri, sudah berada di tengah-tengah mereka. Misalnya di keluarganya, bahkan kena juga sendiri,” tambahnya.

Melihat hal ini, Andi berpendapat masalah gangguan kecemasan akibat COVID-19 ini kurang baik bagi kondisi masyarakat. Terlebih lagi jika dia memang memiliki riwayat gangguan kecemasan.

Andri menyarankan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menghindari gangguan-gangguan ini adalah dengan mengurangi asupan berita-berita negatif terkait COVID-19.

“Otak kita ini memang dari dulunya dirancang begitu, memang untuk merespons hal-hal negatif, lebih baik daripada hal-hal positif. Jadi, kalau misalnya ada sesuatu yang positif, itu masuknya ke dalam otak lebih lama karena nanti selalu akan ada pikiran bagaimana kalau enggak begitu yang terjadi. Itu namanya negativity, kalau dalam ilmu kedokteran jiwa bilangnya seperti itu,” ujar Andri.

Namun, karena saat ini pemberitaan sudah ada di mana-mana, seperti grup WhatsApp, media sosial, dan lain sebagainya, mungkin akan sedikit sulit bagi masyarakat untuk menghindari berita tersebut.

“Kalau enggak bisa, kasih waktu. Kalau misalnya mau melihat berita-berita itu, persiapkan diri dulu. Misalnya dengan melakukan relaksasi, melakukan hal-hal yang menyenangkan, atau membaca sesuatu yang baik seperti kitab suci,” tuturnya.

Tak hanya itu, Andri juga menyarankan agar masyarakat tetap berolahraga dan lakukan aktivitas fisik di bawah sinar matahari serta mengonsumsi vitamin dan menyeimbangkannya dengan asupan makanan yang bergizi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.